Counter
- Site Counter: 216,647
- Unique Visitor: 32,197
- Registered Users: 393
- Server IP: 115.124.92.102
- Your IP: 38.107.179.243
- Since: 2009-01-24
- Visitors: Today: 276
This week: 2905
This month: 10403
This year: 26915
Recent blog posts
- Prospek Perbankan 2012: Peluang dan Tantangan
- 2012, BNI Syariah Bertumpu pada Bisnis Ritel dan Konsumer
- SOLIDARITAS DALAM KEBERSAMAAN SP DPD WJK
- Cara Mantap Menjadi Pribadi yang Menyenangkan
- Keterampilan Pribadi Menjadi Daya Pikat Perusahaan
- Cara Aman Bakar Kapal Menjadi Enterpreneur
- 2045 Indonesia Enam Besar Ekonomi Dunia
- 3 Langkah Antisipasi Perbankan Terjerumus Krisis Baru
- BI Nilai Likuiditas Valas Perbankan Masih Aman
- Semakin Selektif, Perbankan Mungkin Rem Kucuran Kredit Valas
3 Langkah Antisipasi Perbankan Terjerumus Krisis Baru - Dengan adanya tantangan perekonomian yang cukup berat pada 2012, kinerja perbankan nasional dapat berpotensi mengalami penurunan. Terobosan bisnis yang terus diupayakan oleh kalangan pengusaha harus dapat diantisipasi dengan baik oleh perbankan nasional. Rully Ferdian
Jakarta–Konferensi Nasional III IAIB (Ikatan Auditor Intern Bank) pada 24 dan 25 November 2011, di Yogyakarta, yang menghadirkan pembicara antara lain Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah, Ketua Bidang Organisasi dan Advokasi Institut Bankir Indonesia/IBI, yang juga Direktur Bank Mandiri Ogi Prastomiyono, Direktur PT Pertamina Waluyi, Komisaris Independen Bank BCA Cyrillus Harinowo, Komisaris Independen Bank BRI Aviliani, dan Presiden Direktur General Electric Indonesia Handry Satriago, menyarankan beberapa langkah yang harus dilakukan pemerintah menghadapi ancaman krisis baru, khususnya yang terkait dengan perbankan, antara lain:
- Sistem koridor dalam pemberian bantuan keuangan dan perbankan sehingga tidak banyak kredit macet karena salah dalam kebijakan atau visibilitas studi sektor ini bisa dimainkan stakeholder-nya oleh bank sentral (Bank Indonesia).
- Bank Indonesia juga bisa mengatur alokasi kredit ke sektor riil lebih dominan berbentuk modal kerja dan investasi, bukan mencurahkan perhatian pada keuntungan jangka pendek dengan kredit konsumtif.
- Fokus kebijakan moneter yang substansinya ditujukan untuk mengawal laju pertumbuhan ekonomi
Dalam keterangan pers IAIB, yang diterima Infobanknews.com, di Jakarta, Selasa, 29 November 2011, menjelaskan, kinerja perbankan nasional dalam 5 tahun terakhir menunjukkan tren yang menggembirakan, laba perbankan yang pada 2005 hanya sebesar Rp24,9 triliun, pada akhir Desember 2010 telah mencapai Rp57.3 triliun atau naik sebesar 130%.
Sementara itu, rasio Non Performing Loan membaik dari 7,6% pada 2005 menjadi 2.,% pada Desember 2010, sedangkan Net Interest Margin (NIM) relatif stabil pada kisaran 5,6% pada 2005 menjadi 5,7% pada Desember 2010, dan Return on Asset (ROA) meningkat dari 2,6% menjadi 2,9% periode yang sama.
Peran perbankan sebagai motor penggerak perekonomian nasional juga masih dominan. Sampai Desember 2010, total kredit perbankan telah mencapai Rp1,765.8 triliun, jauh lebih besar dibandingkan pendanaan melalui emisi saham di pasar modal yang mencapai Rp879.9 triliun, sedangkan aset perbankan pada Desember 2010 juga jauh lebih besar bila dibandingkan dengan asset institusi keuangan lainnya.
Dengan adanya tantangan perekonomian yang cukup berat pada 2012, kinerja perbankan nasional dapat berpotensi mengalami penurunan. Terobosan bisnis yang terus diupayakan oleh kalangan pengusaha harus dapat diantisipasi dengan baik oleh perbankan nasional.
Demikian halnya terobosan dari perbankan nasional itu sendiri dalam mengelola portofolio bisnisnya agar tetap tumbuh secara sustainable, harus dikawal dengan tetap mengedepankan praktek bisnis perbankan yang hati-hati (prudential banking). (*)
sumber [Infobank]
- admin's blog
- Login or register to post comments



