Counter
- Site Counter: 216,645
- Unique Visitor: 32,197
- Registered Users: 393
- Server IP: 115.124.92.102
- Your IP: 38.107.179.241
- Since: 2009-01-24
- Visitors: Today: 274
This week: 2903
This month: 10401
This year: 26913
Recent blog posts
- Prospek Perbankan 2012: Peluang dan Tantangan
- 2012, BNI Syariah Bertumpu pada Bisnis Ritel dan Konsumer
- SOLIDARITAS DALAM KEBERSAMAAN SP DPD WJK
- Cara Mantap Menjadi Pribadi yang Menyenangkan
- Keterampilan Pribadi Menjadi Daya Pikat Perusahaan
- Cara Aman Bakar Kapal Menjadi Enterpreneur
- 2045 Indonesia Enam Besar Ekonomi Dunia
- 3 Langkah Antisipasi Perbankan Terjerumus Krisis Baru
- BI Nilai Likuiditas Valas Perbankan Masih Aman
- Semakin Selektif, Perbankan Mungkin Rem Kucuran Kredit Valas
BI Nilai Likuiditas Valas Perbankan Masih Aman - Masih minimnya rasio devisa netto perbankan, yang secara rata-rata industri masih sebesar 2,7% dari batas maksimal sebesar 20% dari modal dinilai Bank Indonesia masih aman bagi perbankan. Namun, dari sisi pasar valas permintaan yang lebih besar daripada suplai membuat likuditas valas mengetat.
Jakarta–Bank Indonesia (BI) menilai, kondisi likuiditas valuta asing (valas) perbankan masih aman, walau ada kekhawatiran di pasar bahwa valas semakin sulit diperoleh. Bank sentral mencatat rasio devisa netto perbankan masih sangat rendah dari ketentuan maksimal.
“Salah satu ukuran asset dan liabilities valas adalah posisi devisa netto mereka (perbankan). Itu in absolute term tidak boleh melebih 20% modal, itu net open jad aset valas dikurangi liabilities valas,” tutur Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo, kepada wartawan di Gedung BI, Jakarta, Selasa 29 November 2011.
Bank sentral mencatat, per 2 November 2011, rata-rata industri rasio devisa netto adalah 2,7% dari modal, jauh di bawah batas maksimal yang ditetapkan sebesar 20% dari modal. “Kondisi bank per bank memang berbeda-beda, tapi terbesar itu 11% dari modal bank. Nah kalau kita ukur dengan ini, itu tidak ada bank-bank mengalami tekanan,” tandas Perry. Ia menjelaskan, yang muncul ke permukaan bahwa terjadi kekeringan valas lebih di pasar valas, karena lebih banyak permintaan (demand) daripada penawaran (supply).
“Selama ini memang permintaan-permintaan valas apakah dari korporasi apakah dari BUMN, disamping BI yang menyuplai, juga ada dari portofolio investasi. Nah oleh sebab itu kebijakan DHE (devisa hasil ekspor) itu sangat penting dalam menyuplai pasokan valas kita,” ucapnya.
Kondisi berkurangnya pasokan valas, lanjutnya, juga terpengaruh karena gejolak ekonomi di Eropa, di mana terjadi tekanan portofolio valas akibat reversal yang terjadi pada triwulan ketiga. “Karena itu saat ini, BI menjadi suplier valas terbesar,” tutupnya. (*)
sumber [Infobank]
- admin's blog
- Login or register to post comments



