Counter

  • Site Counter: 728,371
  • Unique Visitor: 67,337
  • Registered Users: 429
  • Server IP: 115.124.92.102
  • Your IP: 54.87.134.127
  • Since: 2009-01-24
  • Visitors:
  • Today: 107
    This week: 1658
    This month: 7369
    This year: 129987

Kesiapan Pegawai dalam menghadapi perubahan Reformasi 1.0

Perubahan merupakan fenomena yang telah terjadi sejak jaman dahulu kala.  Suatu proses evolusi yang membutuhkan waktu panjang menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan sangat dekat dengan kehidupan di alam semesta.  Tidak terkecuali dalam kehidupan modern dimana aktivitas bersosialisasi menjadi keniscayaan dalam suatu lingkup komunitas.  

Perubahan itu sendiri pada dasarnya merupakan hasil daripada interaksi suatu kondisi yang dinamis, antara individu dengan komunitas, komunitas dengan lingkungan dan seterusnya.  Ketika terjadi gap dari setiap aksi interaksi, maka terjadilah suatu proses asimilasi atau perpaduan yang kemudian melahirkan suatu bentuk perubahan. Dalam suatu komunitas, perubahan sosial merupakan salah satu aspek yang paling banyak berubah.  Derasnya perubahan lingkungan menjadi salah satu pemicu yang mendorong terjadinya perubahan sosial. Berdasarkan tingkat perubahan yang terjadi, adakalanya perubahan tersebut memiliki pengaruh yang besar dan mendasar, tetapi ada juga yang pengaruhnya tidak begitu besar.
Dalam suatu perusahaan, khususnya perbankan, perubahan merupakan suatu hal yang sangat lazim terjadi. Berbagai perubahan yang terjadi dalam lingkungan bisnis, menuntut perbankan untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam rangka memenangkan persaingan.  Begitu pula yang terjadi di BNI, tuntutan nasabah, inovasi unggul Bank pesaing dan ketatnya persaingan layanan antar Bank, terus mendorong manajemen untuk melakukan perubahan demi perubahan.
Kemampuan perusahaan untuk melakukan perubahan akan sangat tergantung dari kemampuan pegawainya dalam menghadapi perubahan tersebut, termasuk kesiapan dalam melakukan perubahan. Pegawai sebagai aset perusahaan merupakan salah satu aspek penting dalam kelangsungan sebuah organisasi, dimana kenyamanan yang dirasakan pegawai akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu perusahaan dalam mencapai tujuan dari suatu perubahan.
Oleh karena itu, manajemen perlu mempertimbangkan arti penting dari suatu pola hubungan public internal, dimana dalam pelaksanaannya diperlukan suatu kombinasi antara sistem manajemen yang sifatnya terbuka (open management) dan awarenes terhadap nilai dan pentingnya memelihara komunikasi timbal balik antara manajemen dan pegawainya dalam rangka membangun suatu employees based yang kuat. Di satu sisi kemampuan manajemen, dalam mengolah dan mendapat dukungan yang berkualitas dari  sumber daya manusia yang dimilikinya, akan membantu manajemen dalam menjalankan perencanaan yang bertujuan menyamakan pengertian dan pemahaman tentang adanya suatu perubahan yang dijalankan.
Berbicara tentang perubahan yang sedang terjadi di BNI saat ini, terkait transformasi BNI Reformasi 1.0, pada saatnya akan terjadi suatu perubahan yang notabene merupakan hasil dari suatu proses transformasi bisnis yang tidak hanya berdampak terhadap aktivitas bisnis BNI, namun juga terhadap pola-pola interaksi, baik itu antara manajemen dan pegawai, maupun diantara sesama pegawai.   
Tidak mustahil, hasil akhir secara sosial dari program Reformasi 1.0 adalah suatu perubahan culture di BNI yang menuntut seluruh pegawai untuk bisa ”berbuat lebih” sebagaimana yang sedang dikembangkan oleh Tim Human Capital, yang diantaranya membangun konsep tentang remunerasi dan career path pegawai BNI kedepan, yang tentunya diharapkan dapat membangun lingkungan kerja BNI menjadi lebih baik.
Secara individu, perubahan-perubahan tersebut akan menimbulkan dampak sosial yang cukup besar. Perubahan pola interaksi antara pegawai dan manajemen yang telah terbangun selama puluhan tahun, tampaknya akan ditinggalkan dan digantikan dengan suatu pola baru, sebagai dampak adanya perubahan bisnis proses sesuai blue print  yang dihasilkan Tim Reformasi 1.0.  Dengan demikian perubahan tersebut juga menuntut kesiapan yang kuat dari setiap pegawai, terutama menyangkut kesiapan mental akibat adanya perubahan interaksi sosial dalam komunitas pegawai BNI.
Poinnya adalah bahwa perlu adanya pemahaman bersama, bahwa program Reformasi 1.0 tidak hanya berdampak terhadap proses bisnis di BNI, melainkan juga memiliki dampak sosial yang cukup signifikan di level pegawai BNI, menyangkut kesiapan terhadap suatu perubahan yang sangat mungkin terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi.
Dan untuk mencapai pemahaman bersama tersebut, ada beberapa hal yang dirasa penting, salah satunya adalah hadirnya media relations yang diharapkan dapat memberi informasi dan pemahaman untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gap informasi. Mengapa ini penting, kesimpang-siuran akibat adanya gap informasi, berpotensi menimbulkan kebingungan yang berujung pada suatu kondisi yang kontra produktif akibat ketidakpahaman pegawai terhadap suatu perubahan yang sedang terjadi.    
Bagi suatu perusahaan, sangat penting menggunakan media komunikasi sebagai sarana interaksi untuk menyampaikan informasi.  Sarana ini dinilai cukup efektif untuk  berkomunikasi secara langsung antara manajemen dan pegawai, sehingga makin menyempitkan gap informasi yang acapkali menimbulkan kesimpang siuran informasi.  Simpang siurnya suatu informasi  sangat potensial menimbulkan gejolak di level pegawai, yang pada akhirnya dapat menimbulkan preseden negatif pegawai terhadap manajemen. Dan apabila hal-hal semacam tersebut tidak dikelola dengan baik, maka tujuan dari perubahan tersebut akan menjadi sulit tercapai.
Disamping itu, hal lain yang harus dilengkapi dalam pencapaian suatu perubahan adalah dengan kegiatan yang bersifat meningkatkan kemampuan pegawai, dalam bentuk pelatihan-pelatihan sebagai tambahan pengetahuan, keahlian/ keterampilan yang akan mengubah sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya. Kegiatan ini akan menyempitkan gap of competency pegawai terhadap requirement kompetensi yang dibutuhkan seiring perubahan yang terjadi.  Semakin kecil gap of competency, maka semakin siaplah seorang pegawai untuk menghadapi perubahan.

Pada akhirnya, kesiapan pegawai dalam menghadapi suatu perubahan besar organisasi  menjadi hal mendasar yang perlu diperhatikan manajemen sebuah perusahaan. Dengan kejelasan informasi, peningkatan pengetahuan / wawasan pegawai, serta dorongan mental sebagai pegawai yang unggul, berprestasi, berkualitas dan resisten terhadap perubahan-perubahan sekecil apapun, seorang pegawai diharapkan dapat menjadi aset yang benar-benar berarti bagi perusahaan.

Oleh D.Charmaningtyas
telah dimuat pada Tabloid "Pekerja" Edisi 1